Kamis, 05 Januari 2012

KRITIK IDEOLOGI review

KRITIK IDEOLOGI

Juergen Habermas seorang filsuf dan sosiolog asal Jerman yang tergabung dalam kelompok bernama Frankfurt School yang mewarisi pemikiran-pemikiran sangat radikal dari pendahulunya atau “Kiri Baru” oleh Herbert Marcuse. Para pendahulunya yang juga tergabung dalam kelompok ini seperti, Max Horkheimer, Theodor W. Adorno dan Herbert Marcuse sedikit banyak memberikan inspirasi kepadanya dalam melahirkan kritik-kritik ideologi yang yang tidak hanya kritis namun juga emansipatif. Juergen Habermas bersama para temannya banyak terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Karl Marx yang sangat kritis terutama terhadap pertautan diskursus antara kelas Borjuis dan Ploretar. Dalam perjalanan pemikiran kiri mereka yang
cukup berbeda, Max Horkheimer memberikan pemikiran teoritisnya mengenai Teori Tradisional dan Kritis pada tahun 1937. Dalam pemikirannya tersebut Horkheimer berhasil menampar pola-pola pemikiran filsafat tradisional ilmu manusia yang dianggap kontemplatif dan afirmatif. Yang berarti bahwa pemikiran tersebut masih kental dengan aura kepentingan kekuasaan pada saat itu (subjektif) serta berdiri dan mendukung pada kelompok-kelompok tertentu. Sehingga, dalam praktiknya terdapat distorsi-distorsi ideologi yang tidak seimbang dalam kehidupan real masyarakat.
            Melihat kenyataan itu, pendahulu Jürgen Habermas, seperti Horkheimer dan Adorno menelurkan pemikiran kritis terhadap industri barat yang dilihatnya penuh dengan intrik kepentingan-kepentingan pribadi. Akan tetapi, pada akhirnya mereka menjadi pesimis dengan pemikiran mereka sendiri dikarenakan dominasi dan monopoli industri modern yang pada saat itu menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat yang secara halus melarutkan diskursus pertentangan kelas melalui bentuk kapitalisme. Artinya bahwa pemikiran-pemikiran kritis Horkheimer dan Adorno yang terinspirasi lahir setelah dominasi dan monopoli kaum kapitalis yang menguasai mode of production pada saat itu. Tak pelak pemikiran ini hanyalah sia-sia belaka.
            Berdasarkan pertimbangan itu, Juergen Habermas dengan pemikiran barunya, yaitu pendekatan kritis dan materialistik. Baginya pendekatan kritis sangat penting untuk melawan dominasi dan monopoli ideologi teori-teori terdahulu yang kontemplatif dan afirmatif di mata pendahulunya. Yang terakhir adalah Materialistik merupakan pemikiran yang berusaha untuk membongkar distorsi-distorsi ideologis manusia pentingnya dalam hubungan produksi manusia yang memiliki ketimpangan yang cukup subtil.
            Lanjutnya, meskipun Habermas merupakan junior dalam kelompok Frankfurt School ini, dia memiliki pemikiran yang cukup berbeda akan teknologi dan ilmu pengetahuan modern yang pada saat itu dikuasai oleh kaum borjuis. Tidak sama dengan para pendahulunya yang pesimis dengan dominasi teknologi dan ilmu pengetahuan, baginya kedua hal tersebut sangatlah penting dalam masyarakat era modern ini sebagai tenaga produktif. Ia justru mendapatkan refleksi dari pendahulunya dengan merumuskan bahwa perumusan teori pengetahuan yang sarat dengan kepentingan ideologi khususnya dalam industri modern justru menciptakan jembatan baginya menuju pembedaan antara ilmu-ilmu empiris-analitis dan ilmu-ilmu historis-hermenutis. Artinya bahwa ilmu-ilmu empiris-analitis yang merupakan pengetahuan mengalami pendistorsian ideoligis ketika memasuki ranah ilmu-ilmu historis-hermenutis yang di baliknya itu memiliki kepentingan tertentu yang dilakukan oleh kaum kapitalis. Ditambahkannya bahwa proses ini tidak akan berjalan lancar jika tidak didasari dengan komunikasi yang baik.
            Inilah yang kemudian menjadi tolak ukur pemikiran kritis baru Habermas yang menitik beratkan pada bentuk komunikasi yang oleh beberapa orang disebutnya sebagai komunikasi kritis. Penemuan ini sangatlah penting bagi Habermas karena ia dapat menemukan kekurangan mendasar dari Karl Marx, sang mentor yang memahami komunikasi sebagai model pekerjaan. Tidak hanya itu, pemikiran kritis Habermas yang baru ini juga membawanya keluar dari pemikiran Horkheimer dan Adorno yang pesimis akan dominasi dan monopoli kaum kapitalis yang melakukan praktik kekuasaannya melalui prinsip tukar yang subtil.
            Penemuan konsep komunikasi dalam teori kritis Habermas  ini secara tidak langsung ikut mengkritisi teori kritis Karl Marx yang memusatkan diskursus pertarungan kelas Borjuis yang menguasai mode of production dan Ploretar serta Horkeimer dan Adorno yang mengfokuskan pada masyarakat industri barat yang menguasai aspek produksi dan secara tidak langsung menarik masyarakat menjadi masyarakat konsumsi yang tinggi atau dengan kata lain prinsip kapitalis. Di sini dapat dilihat bahwa apa yang dilakukan Karl Marx, Marx Horkheimer, dan Theodor W. Adorno adalah suatu bentuk kritis emansipasi visual semata atau hanya menerimanya saja tanpa ada perlawanan yang cukup kuat hingga membuat Horkheimer dan Adorno menjadi pesimis. Artinya bahwa Juergen Habermas melihat para pendahulunya mengkritisi oposis biner sosial masyarakat lewat struktur-struktur yang diciptakan para kaum borjuis maupun kapitalis di atas para kaum ploretar. Sedangkan, Juergen Habermas menawarkan kritis emansipasi verbal yang dianggapnya memiliki kekuatan perlawanan yang kuat terhadap pertarungan kelas yang didasari atas hubungan produksi oleh Karl Marx dan kekuasaan ideologis prinsip tukar atas masyarakat industri kapitalis tua oleh Horkheimer dan Adorno. Dengan begini dapat menciptakan masyarakat kritis yang dapat menyampaikan kepentingan-kepentingannya sendiri melalui komunikasi verbal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemikiran kritis Jürgen Habermas yang bersandarkan pada sebuah konsep komunikasi kritis memberikan peluang besar bagi masyarakat dalam menyampaikan hak-hak mereka. Namun, jika kita mencermati kembali pemikiran Jürgen Habermas ini sama halnya yang ada pada pemikiran Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno maupun Karl Max yang pada akhirnya berujung pada pesimistis dikarenakan satu dan pasti bahwa adanya dominasi dan monopoli ideologis kaum borjuis maupun kapitalis yang telah menghegemoni para kaum Ploretar dan ini butuh waktu yang lama untuk mereduksi atau bahkan menghilangkannya. Tidak hanya itu para kaum borjuis dan kapitalis ini pun akan berusaha mempertahankan dominasi mereka dari resistensi yang ada. Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa kaum ploretar juga membutuhkan mereka (borjuis dan kapitalis) sebagai sumber pendapatan mereka maupun pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka yang berarti terjadinya ambivalensi diantara kedua kaum tersebut dipandang di sisi poskolonialisme. Juergen Habermas mungkin juga lupa bahwa pemikiran kritis melalui komunikasi ini bisa juga menimbulkan subjektivitas dari mereka yang merasa ditindas karena hak-hak suara mereka itu belum tentu dapat sama dengan yang lainnya hingga mewakili hak-hak suara mereka. Artinya bahwa perlu adanya kesamaan visi dan misi dalam mengumpulkan konsesus suara ini demi tujuan bersama. Pada akhirnya yang bisa dikatakan adalah pemikiran kritis Jürgen Habermas melalui teori komunikasinya juga berujung pada pesimistis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar